AKHIR PEKANBeritaLife StyleMETROPOLIS

Karier Mentok Padahal Kompeten? Mungkin Sifat Neurotisisme Ini Penghambatnya

KALTENG.CO-Pernahkah Anda merasa memiliki kemampuan di atas rata-rata, namun posisi Anda di kantor seolah tidak pernah beranjak? Fenomena karier yang “jalan di tempat” sering kali memicu rasa frustrasi.

Menariknya, penelitian psikologi mengungkapkan bahwa hambatan terbesar sering kali bukan datang dari kurangnya skill teknis, melainkan dari dalam diri kita sendiri.

Ada satu dimensi kepribadian yang diam-diam bisa menjadi “rem tangan” bagi performa kerja seseorang: Neurotisisme.

Neurotisisme bukanlah sebuah gangguan mental, melainkan kecenderungan kepribadian untuk merespons dunia dengan emosi negatif. Orang dengan tingkat neurotisisme tinggi sering kali terjebak dalam kecemasan, keraguan diri, dan kebiasaan membayangkan skenario terburuk (overthinking).

Meski mereka sangat kompeten, sifat ini bisa mengaburkan potensi asli mereka di mata atasan maupun rekan kerja.

Melansir dari laman Your Tango (31/1/2026), berikut adalah tiga alasan utama mengapa sifat neurotisisme tinggi sering menjadi penghalang besar di dunia kerja.

1. Terjebak dalam “Lumpur” Keraguan Diri (Self-Doubt)

Seseorang yang neurotis cenderung memiliki dialog internal yang kritis. Bukannya fokus pada solusi saat menghadapi tantangan, mereka justru menghabiskan energi untuk mempertanyakan kemampuan diri sendiri.

Keraguan ini sering kali berujung pada prokrastinasi atau penundaan pekerjaan. Karena takut hasilnya tidak sempurna atau takut salah, mereka justru tidak memulai sama sekali.

Di dunia profesional yang menuntut kecepatan, sifat ragu-ragu ini bisa dianggap sebagai ketidakmampuan, padahal sebenarnya itu adalah bentuk proteksi diri dari rasa cemas.

2. Reaktivitas Emosional yang Tinggi terhadap Stres

Dunia kerja penuh dengan tekanan, tenggat waktu, dan kritik. Bagi individu dengan tingkat neurotisisme rendah, kritik dianggap sebagai masukan. Namun bagi mereka yang neurotis, kritik kecil sekalipun bisa terasa seperti serangan personal yang menghancurkan.

Kecenderungan untuk mudah stres ini membuat mereka sulit mempertahankan ketenangan saat krisis. Hal ini berdampak pada pengambilan keputusan yang terburu-buru atau justru menarik diri dari lingkungan sosial kantor. Akibatnya, mereka jarang dipertimbangkan untuk peran kepemimpinan yang membutuhkan stabilitas emosional tinggi.

3. Fokus Berlebihan pada Skenario Terburuk

Individu neurotis adalah “ahli” dalam membayangkan kegagalan sebelum mereka sempat mencoba. Meskipun kewaspadaan itu penting, fokus yang berlebihan pada risiko dapat mematikan kreativitas dan keberanian untuk mengambil peluang besar.

Ketika ada proyek baru yang menantang, mereka mungkin akan melihat seribu alasan mengapa proyek itu akan gagal, alih-alih melihat peluang untuk sukses. Di mata perusahaan, sikap ini sering disalahartikan sebagai kurangnya ambisi atau semangat inovasi, yang akhirnya menghambat kenaikan jabatan.

Dapatkah Neurotisisme Diatasi?

Kabar baiknya, kepribadian tidak bersifat kaku. Meskipun Anda memiliki kecenderungan neurotis, Anda tetap bisa meraih karier yang cemerlang dengan beberapa langkah adaptasi:

  • Latihan Mindfulness: Untuk membantu mengelola kecemasan saat bekerja.

  • Membingkai Ulang Pikiran (Reframing): Belajar melihat tantangan sebagai peluang belajar, bukan ancaman.

  • Mencari Lingkungan Kerja yang Mendukung: Tempat yang menghargai ketelitian dan empati, di mana sifat peka Anda bisa menjadi aset, bukan beban.

Bakat adalah modal, tetapi regulasi emosi adalah kendaraannya. Mengenali apakah Anda memiliki sifat neurotis adalah langkah pertama untuk memutus rantai hambatan karier dan mulai melangkah maju menuju potensi maksimal Anda. (*/tur)

Related Articles

Back to top button