Kepala Dislutkan Kalteng: Seminar Internasional Pumpung Hai Borneo Perkuat Kearifan Lokal dan Keberlanjutan Lingkungan

PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Tengah, Sri Widanarni, S.I.P., M.Si., menyampaikan dukungan penuh atas terselenggaranya Seminar Internasional International Day of the World’s Indigenous People 2025 Pumpung Hai Borneo (The Great Borneo’s Assembly) yang di prakarsai Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Tengah.
Menurutnya, forum berskala internasional ini tidak hanya menjadi ruang intelektual dan budaya, tetapi juga momentum penting untuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Dayak yang selama ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan dalam mengelola sumber daya alam, termasuk kelautan dan perikanan.
“Bagi kami, masyarakat adat Dayak memiliki filosofi hidup yang erat dengan alam. Kearifan itu sejalan dengan upaya menjaga keberlanjutan laut, sungai, dan perairan kita. Karena itu, seminar ini sangat strategis dalam membangun kesadaran kolektif agar pembangunan di Kalimantan berlangsung selaras dengan kelestarian lingkungan,” ujar Sri Widanarni di Palangka Raya, Kamis (21/8/2025).
Seminar yang di gelar pada 21–23 Agustus 2025 ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, mulai dari Menteri Kehutanan, para gubernur se-Kalimantan, hingga perwakilan masyarakat adat dari berbagai daerah di Borneo. Agenda di buka dengan Mimbar Demokrasi di Rumah Adat Betang Hapakat pada 21 Agustus, di lanjutkan seminar penuh di Kalawa pada 22–23 Agustus.
Pak Gubernur Menekankan Agar Hasil Seminar Ini Mampu Memberi Kontribusi Nyata
Sri Widanarni menilai, kehadiran tokoh-tokoh strategis itu akan menghasilkan gagasan penting untuk memperkuat jejaring masyarakat adat di tingkat regional dan global.
“Kami berharap forum ini melahirkan rekomendasi yang tidak hanya menyentuh aspek kebudayaan, tetapi juga menyelami isu keberlanjutan lingkungan, termasuk perlindungan hutan adat dan ekosistem perairan yang menjadi penopang kehidupan masyarakat adat di Kalteng,” jelasnya.
Selain membahas penguatan identitas Dayak, seminar juga mendorong penetapan 24 Juli sebagai Hari Dayak Nasional serta memperjuangkan keberadaan hutan adat sebagai ruang hidup masyarakat lokal.
Sri Widanarni menambahkan, isu kelestarian sumber daya alam akan semakin relevan jika di kaitkan dengan keberlangsungan generasi mendatang.
“Kami di Dinas Kelautan dan Perikanan juga melihat keterkaitan erat antara budaya Dayak dan pelestarian alam. Dayak memiliki tradisi menjaga sungai, danau, hingga rawa, yang semuanya adalah ekosistem penting perikanan. Jika ini terus di angkat, maka Kalteng bisa benar-benar menjadi pusat peradaban Dayak yang ramah lingkungan dan berdaya saing global,” paparnya.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, lanjut Sri Widanarni, mendukung penuh agenda besar ini. Gubernur Kalteng, H. Agustiar Sabran, telah menegaskan pentingnya seminar internasional sebagai wadah menggali potensi daerah dan memperkuat identitas Dayak di panggung dunia.
“Pak Gubernur menekankan agar hasil seminar ini mampu memberi kontribusi nyata. Kami yakin, forum ini akan menjadi tonggak penting bagi masyarakat adat Borneo sekaligus memperkuat arah pembangunan Kalteng yang berkelanjutan,” pungkasnya. (pra)
EDITOR: TOPAN



