Dampak Fatal “Boys Will Be Boys”: 7 Kesalahan Asuh Anak Laki-Laki Menurut Ahli

KALTENG.CO-Mendidik anak laki-laki di era modern memiliki tantangan tersendiri. Psikologi menjelaskan bahwa pola asuh anak laki-laki bukan hanya soal apa yang harus dilakukan orang tua, tetapi juga tentang kesalahan apa saja yang wajib dihindari.
Selama ini, ada stereotipe budaya yang membiarkan anak laki-laki “membesarkan diri mereka sendiri” dengan dalih agar mereka tumbuh menjadi pria mandiri dan tangguh.
Sayangnya, sains membuktikan sebaliknya. Mengabaikan kebutuhan emosional anak laki-laki justru berkontribusi pada berbagai masalah serius di masa depan, mulai dari perilaku kekerasan hingga isolasi sosial yang ekstrem.
Para ahli menegaskan bahwa orang tua yang sadar dan mampu menghindari kesalahan-kesalahan fatal dalam pola asuh, cenderung berhasil membesarkan anak laki-laki yang lebih sehat secara emosional, matang secara sosial, dan tangguh menghadapi dunia.
Dilansir dari laman YourTango, berikut adalah tujuh kesalahan dalam mendidik anak laki-laki menurut psikologi yang harus dihindari oleh setiap orang tua demi tumbuh kembang anak yang optimal.
1. Melarang Anak Laki-Laki Menangis atau Mengekspresikan Emosi
Kalimat seperti “Anak laki-laki tidak boleh nangis!” atau “Jangan cengeng, kamu kan laki-laki!” adalah bentuk toxic masculinity yang paling sering ditanamkan sejak kecil.
Secara psikologis, menekan emosi tidak membuat anak laki-laki menjadi kuat. Sebaliknya, hal ini membuat mereka tidak tahu bagaimana cara memproses kesedihan atau rasa takut dengan sehat. Ketika emosi ini menumpuk, di masa dewasa mereka cenderung meluapkannya dalam bentuk kemarahan atau depresi.
2. Membiarkan Mereka “Membesarkan Diri Sendiri”
Ada anggapan keliru bahwa anak laki-laki akan otomatis mengerti cara menjadi pria dewasa seiring berjalannya waktu. Akibatnya, mereka sering dibiarkan tanpa bimbingan emosional yang intens dari orang tua.
Anak laki-laki tetap membutuhkan kehadiran, obrolan dari hati ke hati, serta batasan yang jelas dari orang tua. Membiarkan mereka tumbuh tanpa arah hanya akan membuat mereka mencari figur contoh yang salah dari internet atau lingkungan yang toksik.
3. Menolak Membicarakan Perasaan dan Sisi Rentan
Banyak orang tua merasa tabu atau canggung untuk berdiskusi tentang perasaan dengan anak laki-laki mereka. Padahal, mengajarkan kecerdasan emosional (emotional intelligence) sangat krusial.
Anak laki-laki perlu diajari kosakata emosi. Mereka harus tahu bahwa merasa kecewa, takut, terluka, atau gagal adalah hal yang manusiawi. Ruang aman di rumah untuk membicarakan kerentanan ini akan menjauhkan mereka dari rasa isolasi sosial.
4. Terlalu Memaklumi Perilaku Buruk dengan Dalih “Namanya Juga Anak Laki-Laki”
Ketika anak laki-laki bertindak agresif, merusak, atau tidak sopan, ungkapan “Boys will be boys” (maklum, namanya juga anak laki-laki) sering kali dijadikan tameng.
Psikologi memperingatkan bahwa pembiaran ini sangat berbahaya. Melabeli perilaku buruk sebagai “sifat alami laki-laki” menghilangkan rasa tanggung jawab dari diri anak. Mereka harus tetap diajarkan empati, sopan santun, dan konsekuensi atas setiap tindakan mereka.
5. Jarang Memberikan Sentuhan Fisik yang Menenangkan
Saat anak laki-laki beranjak besar, intensitas pelukan, usapan di kepala, atau gandengan tangan dari orang tua biasanya berkurang drastis dibandingkan kepada anak perempuan.
Padahal, semua anak—tanpa memandang gender—membutuhkan sentuhan fisik (affectionate touch) sebagai bentuk afirmasi kasih sayang dan rasa aman. Kurangnya sentuhan ini bisa membuat anak laki-laki tumbuh menjadi pribadi yang kaku dan haus akan validasi.
6. Tidak Mengajarkan Keterampilan Rumah Tangga Dasar
Masih ada budaya yang membedakan tugas domestik berdasarkan gender. Anak perempuan diajari memasak dan bersih-bersih, sementara anak laki-laki dibebaskan dari tugas-tugas rumah tangga.
Menghindari kesalahan ini sangat penting. Mengajarkan anak laki-laki mencuci piring, merapikan kasur, atau memasak sederhana adalah modal utama untuk membangun kemandirian sejati. Ini juga mendidik mereka agar menghargai kesetaraan di masa depan.
7. Memaksa Mereka untuk Selalu Menang dan Kompetitif
Kompetisi memang bisa memicu prestasi, tetapi memaksa anak laki-laki untuk selalu menjadi yang nomor satu, paling dominan, dan tidak boleh kalah akan menciptakan tekanan mental yang hebat.
Anak laki-laki yang dididik dengan cara ini akan menilai harga diri mereka hanya berdasarkan pencapaian materi atau status. Ketika mereka mengalami kegagalan, mereka akan sangat rentan mengalami krisis identitas dan frustrasi berat.
Catatan Penting untuk Orang Tua: Membesarkan anak laki-laki yang sehat secara psikologis bukan berarti menghilangkan ketangguhan mereka. Justru, ketangguhan sejati lahir dari fondasi emosional yang kuat, kemampuan berempati, dan ruang asuh yang penuh kasih sayang tanpa diskriminasi gender. (*/tur)



