
KALTENG.CO-Di era modern MotoGP, fisik para pembalap dituntut untuk mendekati batas kemampuan manusia. Tak heran jika mayoritas rider saat ini menghabiskan waktu berjam-jam di pusat kebugaran (gym) demi membentuk otot yang kokoh agar mampu menjinakkan motor prototipe berkekuatan lebih dari 250 tenaga kuda. Namun, di tengah tren otot kekar tersebut, Ai Ogura justru memilih jalan yang benar-benar berbeda.
Pembalap anyar Trackhouse Aprilia yang baru saja merebut kemenangan perdananya yang emosional di Sirkuit Assen ini, ternyata punya metode latihan yang tergolong unik. Alih-alih sibuk melakukan angkat beban, Ogura lebih percaya bahwa latihan terbaik seorang pembalap adalah dengan terus mengendarai sepeda motor.
Sentuhan Feeling dan Bakat, Bukan Sekadar Power
Karakter unik pembalap asal Jepang ini dibongkar oleh Norman Rank, mantan kepala kru yang mengawal perjalanan karier Ogura di Honda Team Asia hingga sukses menyabet gelar juara dunia Moto2 2024 bersama MSi. Menurut Rank, performa luar biasa Ogura di lintasan balap lahir dari kombinasi bakat alami dan kepekaan berkendara (feeling) yang luar biasa, bukan karena modal kekuatan fisik semata.
“Ogura tidak mengendarai motor dengan kekuatan fisik, tetapi dengan bakat,” ungkap Norman Rank seperti dikutip dari Speedweek.
Rank menceritakan bagaimana pembalapnya itu sangat fanatik berlatih langsung di atas roda dua. Ogura bahkan sengaja mengoleksi berbagai jenis motor di kediamannya hanya untuk mengasah insting balapnya setiap hari.
“Dia selalu mengatakan tempat terbaik untuk belajar adalah di atas motor. Karena itu, dia memiliki sekitar enam motor di rumah yang sering dipakai berlatih. Dia tidak pergi ke gym kecuali jika memang benar-benar diperlukan,” tambah Rank.
Otot Besar Belum Tentu Efektif di Atas Motor
Pendekatan Ogura ini jelas mendobrak pakem yang diadopsi oleh sebagian besar pembalap muda Eropa saat ini. Rank menilai, banyak rider generasi baru yang terlalu terobsesi mengubah bentuk tubuh mereka secara ekstrem demi mendapatkan kekuatan instan saat berduel di lintasan.
Namun, menurut analisis Rank, massa otot yang terlalu besar justru bisa menjadi bumerang bagi seorang pembalap di kejuaraan dunia sekelas MotoGP.
“Beberapa pembalap muda, hanya dalam setahun, tubuhnya berubah seperti petinju profesional atau atlet MMA (Seni Bela Diri Campuran). Padahal, otot-otot yang besar itu juga membutuhkan pasokan oksigen yang lebih banyak,” tutur Rank menjelaskan sisi minus dari tren gym berlebih.
Pelajaran Penting dari Gaya Balap Ai Ogura
Keberhasilan Ogura menembus kelas utama MotoGP dan langsung kompetitif membuktikan bahwa efisiensi berkendara sering kali lebih unggul daripada sekadar tenaga robotik. Dengan menjaga tubuhnya tetap fleksibel dan fokus pada handling serta cornering speed, Ogura mampu menghemat stamina selama balapan yang menguras fisik berlangsung.
Bagi pencinta MotoGP, gaya balap Ogura yang halus namun mematikan ini menjadi penyegar di tengah dominasi gaya balap agresif yang mengandalkan fisik. Langkah Trackhouse Aprilia mengamankan tanda tangannya tampaknya akan menjadi investasi yang sangat menarik untuk dinantikan perkembangannya.
Ai Ogura mengajarkan bahwa dalam dunia balap motor kasta tertinggi, pemahaman yang mendalam terhadap mesin dan traksi ban sering kali jauh lebih krusial dibandingkan ukuran bisep. Melalui konsistensi latihan langsung di atas sadel, pembalap bernomor motor 79 ini siap membuktikan bahwa “bakat dan kedekatan dengan motor” adalah kunci utama untuk menaklukkan kerasnya persaingan MotoGP. (*/tur)



