
KALTENG.CO-Hasil survei terbaru dari IndexMundi Global Surveys mendadak jadi buah bibir dan memicu perdebatan hangat di tengah publik Indonesia.
Pasalnya, platform survei internasional tersebut merilis data persepsi masyarakat terhadap lembaga kepolisian di dunia, yang menempatkan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai salah satu institusi kepolisian yang dipersepsikan paling korup di kawasan Asia Tenggara.
Melihat riuh rendah tersebut, pakar politik sekaligus akademisi senior Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, ikut angkat bicara. Sebagai sosok yang sudah makan asam garam dalam industri survei dan riset opini publik, Burhanuddin memberikan bedah kritis mengenai kelemahan fatal di balik dapur metodologi yang digunakan oleh IndexMundi.
Pendiri sekaligus peneliti utama Indikator Politik Indonesia ini menegaskan bahwa kualitas metodologi adalah harga mati dalam sebuah riset. Menurutnya, sebuah klaim publik yang besar wajib ditopang oleh metode penelitian yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, bukan sekadar pengumpulan angka acak.
Cacat Fundamental: Survei Daring Terbuka Tanpa Kontrol Sampel
Titik kritis yang paling disoroti oleh Burhanuddin adalah basis pengumpulan data IndexMundi yang sepenuhnya mengandalkan platform online.
“Kelemahan utama metodologi IndexMundi Global Surveys terletak pada penggunaan survei online terbuka tanpa kontrol sampel yang ketat,” ujar Burhanuddin dalam keterangan resminya pada Selasa malam (7/7/2026).
Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan bahwa mekanisme jajak pendapat daring yang dibuka secara bebas sama sekali tidak mampu memotret kondisi populasi sebuah negara secara utuh. Data yang masuk murni hanya mencerminkan isi kepala sebagian pengguna internet yang kebetulan memilih untuk ikut mengisi kuesioner tersebut.
“Hasil akhirnya bersifat subjektif, bukan data statistik empiris yang terverifikasi secara ilmiah,” lanjutnya.
3 Problem Utama Metodologi IndexMundi
Secara lebih rinci, Burhanuddin memetakan tiga dosa metodologis yang membuat hasil survei IndexMundi ini bias dan tidak mencerminkan realitas faktual di lapangan:
1. Sampling Bias (Bias Sampel)
Dalam dunia riset ilmiah, responden harus dipilih menggunakan metode acak murni (probability random sampling). Pada kasus IndexMundi, responden bersifat eksklusif—hanya menjangkau individu yang memiliki perangkat gadget, punya akses internet stabil, melek teknologi, serta menguasai bahasa yang digunakan dalam platform tersebut.
Akibatnya, sampel yang terjaring gagal merepresentasikan komposisi demografi riil suatu negara secara proporsional, baik dari segi usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan, hingga sebaran wilayah geografis.
2. Self-Selection Bias (Kecenderungan Memilih Sendiri)
Karena sistem pengisian data bersifat sukarela dan siapa saja yang mengunjungi situs tersebut bisa berpartisipasi, muncul celah self-selection bias. Pengisi survei berpotensi besar didominasi oleh kelompok tertentu saja.
“Yaitu mereka yang memiliki pandangan yang sangat ekstrem, entah sangat positif atau justru sangat negatif terhadap suatu isu,” imbuh Burhanuddin. Kelompok masyarakat yang memiliki pandangan netral atau objektif biasanya cenderung mengabaikan survei jenis ini.
3. Gelapnya Transparansi Data dan Filter Bot
Kelemahan fatal berikutnya adalah minimnya keterbukaan dari pihak IndexMundi mengenai jumlah pasti responden (sample size) yang terlibat. Selain itu, mereka tidak menjelaskan bagaimana mekanisme pembersihan data (data cleaning) dilakukan, termasuk ada atau tidaknya sistem penyaringan untuk menangkal serangan bot, spam, maupun respons berulang dari satu orang yang sama.
Sekadar Sentimen Digital, Bukan Fakta Empiris
Melihat rentetan kelemahan di atas, Burhanuddin menyarankan publik agar bijak dalam membaca hasil survei tersebut. Angka yang dirilis oleh IndexMundi sebaiknya cukup dipandang sebagai potret dinamika atau riak sentimen di ruang digital semata, bukan sebagai cerminan kondisi faktual dari institusi yang dinilai.
Menurutnya, agar sebuah evaluasi terhadap institusi publik seperti Polri benar-benar objektif, adil, dan bernilai ilmiah, mutlak diperlukan verifikasi ulang menggunakan kaidah-kaidah metodologi penelitian yang ketat, transparan, dan terukur.(*/tur)



