BeritaHukum Dan KriminalKESEHATANNASIONALPeristiwaUtama

Makanan Sehat, Tidak Hanya Komposisinya, tapi Juga Kemasannya

Styrofoam Berbahaya, Menariknya Di Peraturan BPOM Masih Di Ijinkan

Bella menjelaskan bahwa terkait regulasi keamanan pangan, ada dua sektor yang mengatur yakni lingkungan hidup dan BPOM. Namun acap kali kedua peraturan dalam dua sektor tersebut tidak berjalan beriringan, seperti salah satunya terkait peraturan penggunaan styrofoam.

“Permen LHK (75/2019) sudah ketat tidak boleh menggunakan kemasan yang tidak bisa di urai di alam seperti styrofoam. Styrofoam itu berbahaya, menariknya di peraturan BPOM ini masih di ijinkan,” lanjut Bella.

Bella juga menyoroti aturan daur ulang kemasan di Indonesia khususnya daur ulang kertas dan karton. Menurutnya masih belum ada kejelasan terkait daur ulang kedua bahan tersebut.

Tak hanya itu, terkait aturan yang selama ini sudah di buat, Bella juga menilai belum ada tindakan penegakan hukum, khususnya kepada produsen kemasan yang melanggar.

Seharusnya, kata Bella, dalam hal ini pemerintah bisa melakukan dorongan supaya produsen bisa ikut dengan aturan dengan memberikan insentif. Misalnya jika produsen tidak menggunakan styrofoam, maka produsen bisa mendapatkan insentif.

“Sejauh ini peraturan terkait pemberian insentif belum ada, hanya sanksi administrasi yang di tetapkan. Sama halnya dengan sanksi pidana, saya belum melihatnya. Apakah ada produsen di pidana karena kemasan makanan di produksi tidak sesuai aturan?,” kata Bella.

Replikasi Konsep Ide Dari Luar

Lebih lanjut Bella menyarankan agar pemerintah memberikan solusi jangka panjang. Seperti misalnya mekanisme insentif untuk mendorong inovasi. Hal ini juga di amini oleh Venture Builder ENVIU/Zero Waste Living Lab, Tauhid Pandji.

Tauhid menilai, saat ini di perlukan inovasi ramah lingkungan untuk hidup yang berkelanjutan. Kelompok usaha bisa mengambil inisiatif untuk mencari solusi dari masalah seperti bahan kimia beracun dalam kemasan.

“Seperti yang di lakukan ENVIU/Zero Waste Living Lab yakni scaling impact, replicating, dan ideating. Tiga hal ini mencakup bagaimana bekerja sama dengan entrepreneur dan startup yang visinya menuju sosial ramah lingkungan, replikasi konsep ide dari luar, lalu menciptakan ide dari nol,” jelasnya dalam kesempatan yang sama.

Sejauh ini ENVIU/Zero Waste Living Lab sudah membangun kerjasama ke beberapa pihak dan menciptakan 7 usaha guna ulang. Ketujuh usaha ini mengganti kemasan sachet, di sposable cups, liquid containers, plastics bags, plastic bottle, dan food container.

“Kami juga mulai inovasi dalam order makanan online. Seperti menciptakan konsep borrow, use, return. Pelanggan bisa memesan dengan opsi kemasan alas yang circular, bisa di pakai ulang dan nanti bisa di kembalikan lagi,” tambahnya.

Tauhid berharap inovasi yang mereka ciptakan akan terus berkembang. Sehingga kedepannya akan berguna untuk masyarakat. Dia juga meminta agar solusi bisa di dukung oleh berbagai pihak termasuk pemerintah dan para produsen kemasan.

“Mimpi kedepan, ini bukan lagi solusi alternatif, justru jadi hal yang mainstream, jadi ini lah kebiasaan yang seharusnya. Bisa bebas plastik dan juga mengurangi resiko terpapar bahan kimia berbahaya,” pungkasnya.(tur)

Laman sebelumnya 1 2 3

Related Articles

Back to top button