AKHIR PEKANBeritaSASTRA

Tape Ketan si ”Lambe Turah”

Yang sesungguhnya dapat dikomentari Jendro tak usah jauh-jauh. Pagi tadi dua cucunya ribut rebutan jus alpukat di kulkas. Kakaknya merasa, semalam dia yang beli minuman segar itu. Dia pula yang menyimpannya di kulkas. Adiknya bersikeras. ”Aku yang memindahkan dari rak pintu bawah ke freezer,” dia ngotot.

”Ya, tapi aku yang beli. Pakai duitku!”

Gambar Kiri Gambar Kanan

”Hadeuuuh. Duitmu dari Yang Ti. Yang Ti milik kita berdua.”

Cekcok kakak beradik yang masih kelas 1 SD dan TK itu bertele-tele, yang mestinya dapat Jendro komentari. Termasuk ujung perdebatan sang kedua bocah yang, entah bagaimana tele-telenya, jadi serial hingga ke perkara masker sebagai kedok.

”Jadi, cuma memindahkan jusku ke freezer, terus kamu merasa punya hak milik? Pantesan kamu ngebanggain mama teman kamu yang keberatan buka masker karena menganggap masker itu kedok!”

Hah? Apa hubungannya? Si adik juga tak tahu, apa benar pernah membela mama temannya itu. Wong opininya malah begini, kok: Bila membuka masker dianggap membuka kedok, toh ia masih punya kedok-kedok lain yang belum dilepas. Misalnya pakaian. Baju-baju keagamaan dari oknum-oknum agamawan, kan, juga kedok?

”Sikapmu soal pro-kontra buka masker itu bagaimana, Kak?” tanya si adik yang di ambang kelas dari TK ke 1 SD itu. Cekcok pun di ambang surut.

”Hmmm… Aku, sih, netral-netral saja.”

”Netralitas bisa berubah, lho. Seperti kebijakan pakai masker dan nopol. Banyak tokoh budayawan. Dulu netral. Sekarang berpihak. Swedia dan Finlandia sudah puluhan tahun netral selama perang dingin. Sekarang malah mendaftar jadi anggota pakta pertahanan NATO.”

”Lho, kalau soal perang dingin, aku tidak netral. Jus alpukat dingin yang kamu pindah ke freezer itu milikku!”

”Milikku!”

”Milikku!!!!!”

”Ku!”

”Kuuuuu!!!!”

Suhu politik memanas kembali di tanah air, eh, di seputar lemari pendingin pagi itu.

***

Tape ketan hitam Jendro akan jadi besok sore. Sastro masih melihat istrinya tak banyak ungkap. Kedua cucunya yang cemberut dan sudah masuk ke kamar masing-masing berteriak-teriak tanya ini-itu ke Yang Ti-nya. Wangsulan Jendro irit sekali, ”Entah!” Sudah.

Daripada fakir dialog, Sastro memandang ke tenggara, ke zebra piaraan di pekarangan depan rumahnya. Ternyata garis-garisnya tak benar-benar simetris. ”Alam mendidik, simetris itu membosankan. Wajah manusia juga tak benar-benar simetris. Mangkanya kelak lebih banyak perang asimetris pula,” Sastro teringat penjelasan guru gambar SMA-nya dahulu.

Mangkanya ada menteri yang sepatunya tak sama warna. Dan ngomong-ngomong perkara pasangan sepatu, sore itu masuk penjaja sepatu ke pekarangan rumah mereka. Sambil menyodorkan sepatu sebelah, penjaja berseru, ”Obral besar, Bu! Beli satu ini saja nanti Ibu dapat dua!”

Sastro melirik istrinya, ”Orang ini ketularan esensi kampanye investasi bodong ya, Dik?”

”Entah!” Jendro sembari kuat-kuat menahan kentut. (*)

SUJIWO TEJO

Tinggal di Twitter @sudjiwotedjo dan Instagram @president_jancukers. (Dikutip dari JawaPos.com/tur)

Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button