Bukan Lagi Tabu! Pria Pakai Parasol dan Wanita Berdasi: Uniknya Tren Mode Baru di Jepang

KALTENG.CO-Dunia mode Jepang yang selama ini dikenal adaptif dan revolusioner kembali melahirkan tren besar. Belakangan ini, gelombang fashion tanpa batas gender (genderless fashion) semakin menguat di Negeri Sakura, terutama digerakkan oleh Generasi Z.
Gaya berpakaian masyarakat urban di Jepang kini tidak lagi sekadar tentang estetika, melainkan telah bergeser menjadi medium ekspresi diri yang murni. Mereka mulai meninggalkan norma tradisional yang kaku tentang apa yang “seharusnya” dipakai oleh pria dan wanita.
Bagaimana fenomena ini mengubah lanskap industri mode di Jepang? Dan apa saja bukti nyata dari pergeseran budaya ini? Mari kita ulas lebih dalam.
1. Ketika Dasi Melirik Wanita, dan Parasol Memikat Pria
Perubahan tren ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan terlihat jelas di jalanan distrik mode seperti Shibuya dan Harajuku. Ada dua pemandangan unik yang kini semakin lazim dijumpai:
Pria dan Payung Parasol: Menghadapi suhu musim panas yang semakin ekstrem, pria di Jepang tidak lagi gengsi membawa parasol (payung pelindung matahari). Tren ini mematahkan stigma lama bahwa parasol hanya untuk wanita.
Wanita dan Aksesori Maskulin: Di sisi lain, perempuan muda mulai melirik dan mengadopsi item fashion yang selama ini identik dengan lemari pakaian pria, salah satunya adalah dasi.
2. Respons Cepat Raksasa Retail: Strategi Uniseks Aoyama Trading
Melihat pergeseran selera konsumen muda, para pelaku industri mode di Jepang bergerak cepat. Mereka tidak lagi membatasi produk berdasarkan gender, melainkan berdasarkan fungsionalitas dan estetika.
Salah satu langkah agresif diambil oleh Aoyama Trading, raksasa fesyen yang awalnya terkenal dengan pakaian formal pria.
Inovasi Skinny Tie untuk Perempuan
Merespons minat yang tinggi, mereka meluncurkan produk Skinny Tie. Dasi ini dirancang khusus untuk anatomi dan kebutuhan perempuan, dengan karakteristik:
Bentuk yang lebih tipis.
Ukuran yang lebih pendek.
Simpul (knot) yang lebih kecil dibandingkan dasi pria standar.
Setelan Uniseks di Semua Lini
Tak hanya aksesori, Aoyama Trading kini memajang setelan uniseks baik di area pakaian pria maupun wanita di toko retail mereka. Strategi ini diambil berdasarkan survei internal terhadap 850 pengguna aplikasi perempuan, yang menunjukkan hasil mengejutkan: hampir separuh responden tertarik pada gaya berpakaian yang awalnya dirancang untuk pria.
Catatan Industri: Dengan berkurangnya pekerja kantoran yang mengenakan jas formal ke kantor (cool biz trend), perusahaan fashion pria dituntut mencari pasar baru. Pasar potensial tersebut tidak lain adalah perempuan muda dari Generasi Z.
3. Maskulinitas yang Cair: Tren Cute Lunch Bag di Kalangan Pria
Pergeseran ini tidak hanya didominasi oleh Gen Z, tetapi juga mulai merambah ke kelompok usia yang lebih matang. Fenomena menarik dicatat oleh Sanyo Shokai, sebuah perusahaan apparel besar di Jepang.
Mereka mendapati bahwa tote bag berukuran kecil (biasanya digunakan untuk membawa kotak makan siang) yang awalnya dirancang untuk pasar wanita, justru meledak di pasar pria usia 30 hingga 40 tahun.
Penjualan Fantastis: Hanya dalam bulan pertama perilisannya, penjualan tas ini mencapai tiga kali lipat dari target perusahaan.
Sentuhan Unik: Banyak dari pembeli pria ini tidak ragu untuk menghias tas mereka dengan boneka beruang kecil. Detail ini menjadi bukti kuat betapa cairnya konsep maskulinitas di Jepang saat ini.
4. Kenyamanan di Atas Stigma: Lonjakan Penggunaan Parasol
Musim panas yang menyengat menjadi katalis lain runtuhnya batasan gender dalam produk fungsional. Produsen payung ternama di Jepang, Waterfront, mencatat data menarik di mana 23 persen pria berusia 30-an sudah mulai rutin menggunakan parasol sejak tahun lalu.
Retailer pakaian kerja seperti Aoki juga melaporkan lonjakan serupa. Menurut analisis internal Aoki, toko pakaian kerja pria memberikan ruang aman yang membuat pelanggan laki-laki merasa lebih nyaman dan tidak canggung saat membeli produk proteksi matahari ini.
Masa Depan Mode adalah Kebebasan
Tren genderless fashion di Jepang membuktikan bahwa pakaian bukan lagi soal label “pria” atau “wanita”, melainkan tentang kenyamanan, fungsionalitas, dan kebebasan berekspresi.
Bagi Gen Z dan industri mode Jepang, masa depan fesyen adalah sebuah kanvas kosong yang bebas diisi oleh siapa saja, tanpa perlu terikat oleh aturan usang masa lalu.
Kita mungkin akan melihat batasan-batasan ini semakin kabur di tahun-tahun mendatang, tidak hanya di Jepang, tetapi juga secara global. (*/tur)



