Curi Senjata Keluarga, 2 Remaja Pelaku Penembakan Masjid San Diego Tewas Bunuh Diri

KALTENG.CO-Tabir di balik aksi penembakan brutal di Islamic Center of San Diego yang terjadi pada Senin (18/5/2026) waktu setempat mulai terungkap.
Pihak Kepolisian San Diego membeberkan fakta mengejutkan: aparat keamanan sebenarnya telah memburu salah satu pelaku beberapa jam sebelum rentetan tembakan melanda kompleks rumah ibadah tersebut.
Upaya pengejaran massal ini sayangnya berkejaran dengan waktu, hingga akhirnya laporan penembakan lebih dulu pecah sebelum petugas berhasil mencegat kedua pelaku.
Berawal dari Laporan Ibu Pelaku yang Kehilangan Senjata
Pengejaran intensif ini bermula dari kepanikan sebuah keluarga. Kepala Kepolisian San Diego, Scott Wahl, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan dari seorang ibu yang menyatakan anak lak-lakinya yang berusia 17 tahun kabur dari rumah. Sang ibu mengkhawatirkan keselamatan anaknya yang diduga memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup (bunuh diri).
Namun, situasi berubah menjadi alarm bahaya bagi publik setelah pemeriksaan di rumah menunjukkan indikasi yang jauh lebih mengerikan:
Sejumlah senjata api milik keluarga dilaporkan hilang dari tempat penyimpanannya.
Mobil milik sang ibu turut dibawa kabur oleh remaja tersebut.
Remaja 17 tahun itu diketahui tidak sendiri; ia pergi bersama seorang rekannya yang berusia 18 tahun.
Kecurigaan polisi bahwa ini bukan sekadar kasus percobaan bunuh diri biasa semakin menguat ketika mendapati laporan bahwa remaja tersebut pergi dengan mengenakan pakaian kamuflase militer.
“Sangat tidak biasa bagi seseorang yang berniat mengakhiri hidupnya sendiri mengenakan pakaian kamuflase,” ujar Scott Wahl seperti dikutip dari AP News.
Perburuan Teknologi Tinggi yang Berakhir Terlambat
Menyadari potensi ancaman besar, Kepolisian San Diego langsung mengerahkan berbagai teknologi pelacakan canggih, termasuk sistem automated license plate readers (alat pembaca pelat nomor otomatis) untuk melacak rute pelarian kendaraan pelaku.
Sinyal sempat mendeteksi keberadaan mobil tersebut di sebuah pusat perbelanjaan, membuat petugas langsung merapat ke lokasi. Sebagai langkah antisipasi, polisi bahkan sempat mengirimkan peringatan keamanan ke sekolah tempat salah satu pelaku pernah menimba ilmu.
Namun, di tengah upaya penyergapan yang sedang dirancang, panggilan darurat 911 memecah konsentrasi petugas. Laporan penembakan masuk dari Islamic Center of San Diego.
Respons Cepat 4 Menit dan Evakuasi Mencekam
Petugas kepolisian berhasil tiba di lokasi kejadian hanya dalam waktu empat menit setelah laporan pertama diterima. Saat aparat mulai menyisir dan mengamankan area luar masjid, gema suara tembakan kembali terdengar dari jarak beberapa blok.
Dalam pelariannya, kedua pelaku sempat melepaskan tembakan ke arah seorang pekerja pertamanan yang sedang berada di sekitar lokasi. Beruntung, pekerja tersebut berhasil selamat tanpa luka sedikit pun.
Tak lama setelah insiden sekunder itu, polisi menemukan mobil yang mereka buru sejak pagi berhenti di tengah jalan. Saat didekati, kedua remaja tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kabin mobil. Polisi menduga kuat keduanya melakukan aksi bunuh diri bersama setelah melancarkan teror di masjid.
Melalui rekaman udara dari televisi lokal, atmosfer mencekam terlihat jelas di sekitar kompleks Islamic Center. Puluhan mobil patroli dengan sirene menyala mengepung area tersebut. Momen emosional juga terekam saat sejumlah anak-anak di dalam kompleks masjid dievakuasi oleh petugas sambil bergandengan tangan erat menuju titik aman, di mana orang tua mereka sudah menunggu dengan cemas.
Polisi Selidiki Motif Dugaan Kejahatan Rasial
Hingga saat ini, otoritas keamanan San Diego masih terus melakukan pendalaman guna mengungkap motif asli di balik tindakan nekat kedua remaja tersebut.
Mengingat target serangan adalah institusi keagamaan, fokus penyelidikan polisi kini mengarah pada dugaan adanya unsur kebencian atau hate crime yang menyasar komunitas Muslim di wilayah San Diego. (*/tur)



