BeritaNASIONALPENDIDIKANSOSOK

Dipelopori Pemuda Alabio di Amuntai, Muhammadiyah Menyebar hingga Puruk Cahu dan Sampit

Pada umur 32 tahun, tahun 1907, Japeri diangkat menjadi khatib tetap Masjid Jami Alabio. “Jabatan yang beliau pegang sampai wafat,” ujarnya.

Tahun 1908, pemerintah Hindia Belanda menawarkan posisi anggota Raad Agama dan jabatan Mufti Amuntai, tetapi Japeri menolaknya.

Awal persinggungan dengan Muhammadiyah berawal dari berlangganan majalah Al-Munir yang terbit di Padang, Sumatera Barat. Japeri memang gandrung membaca.

Perkembangan berikutnya, pada 22 Desember 1914, berdiri cabang Sarekat Islam (SI) di Alabio. Pendiri dan pemimpin SI, HOS Tjokroaminoto (1882-1934) bahkan disebut-sebut pernah berkunjung ke Kalimantan.

Japeri bergabung ke SI. Tapi ketertarikan kepada Muhammadiyah menguat berkat persahabatannya dengan Usman Amin.

Usman adalah seorang saudagar terkemuka asal Alabio yang bermukim di Surabaya. Keduanya berhubungan lewat korespondensi. Dari surat menyurat itu, Usman mengabarkan tentang kemunculan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Terinspirasi itu, Japeri menyerukan agar umat kembali kepada Al-Qur’an dan Hadis. Meninggalkan praktik beragama yang kolot dan sinkretik. Reaksinya, Japeri mendapat tantangan dari ulama dan umat yang menolak perubahan.

Menghadapi kesukaran itu, Maret 1923, Japeri berangkat ke Jogja. Mengantar putranya untuk masuk sekolah HIS met de Quran yang didirikan Muhammadiyah.

Sayang, Japeri tak sempat bertemu Kiai Ahmad Dahlan, karena beliau sudah tutup usia pada 23 Februari 1923. “Kala itu beliau hanya menengok makam Kiai Dahlan di Karangkajen,” ujarnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button