BeritaNASIONALPENDIDIKANSOSOK

Dipelopori Pemuda Alabio di Amuntai, Muhammadiyah Menyebar hingga Puruk Cahu dan Sampit

Pemuda-pemudi Alabio yang telah dididik di sekolah Wustha Muallimin kemudian menyebar untuk membina cabang-cabang baru tersebut.

Hebatnya, di tengah kesibukannya, Japeri masih sempat menulis buku. Berjudul ‘Neraca’ dan ‘Risalah Nasihatul Ikhwan’ yang dicetak di Singapura.

Sementara ‘Akidatul Iman wal Islam’ dikarangnya saat dalam perjalanan menuju Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru. Buku ini kemudian dicetak di Balikpapan pada 1910.

Japeri pun sempat dua kali menghadiri kongres Muhammadiyah di Jogja sebagai perwakilan Kalimantan.

Meninggal Dalam Dakwah

Untuk menghidupi keluarganya, Japeri memelihara ternak kerbau di Tempakang, Danau Panggang. Dari Alabio, menuju ke sana harus naik perahu. Japeri juga memiliki kebun karet dan sawah.

Jadi bukan menggantungkan hidupnya pada organisasi, Japeri justru menghidupi organisasinya.

Seorang kawan dekat, Bastami pernah berkata, “Beliau (Japeri) menyiarkan agama bukan hanya dengan propaganda. Tetapi dengan perbuatan nyata dan bukti, di antaranya dengan harta bendanya.”

Japeri tak pernah menunda-nunda salat lima waktu. Diceritakan, dalam sebuah perjalanan dari Rantau menuju Martapura, saat tiba waktu salat, Japeri meminta sopir mobil untuk berhenti. Agar ia bisa salat di tepi jalan.

Oleh kesaksian tuan rumah yang menjamunya, sebagai tamu, Japeri tak pernah meninggalkan rawatib (salat sunah sebelum dan sesudah salat fardu). Puasa sunahnya juga tekun.

Soal kepribadian, Japeri tak pernah menyimpan dendam. Stok maafnya melimpah. Sebagai pelopor Muhammadiyah, tentu cercaan dan fitnah kerap dialamatkan kepada dirinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8Laman berikutnya

Related Articles

Back to top button