Dipelopori Pemuda Alabio di Amuntai, Muhammadiyah Menyebar hingga Puruk Cahu dan Sampit

Ditemani Usman, Japeri berkeliling melihat sekolah, panti asuhan, rumah sakit, surau dan percetakan milik Muhammadiyah. Di asrama pelajar di Ngapilan, tamu dari Kalimantan ini disambut dengan hangat.
Pulang ke Alabio pada bulan April, Japeri mengajak teman-temannya, dari kalangan ulama dan pedagang untuk bermusyawarah. Hingga diputuskan pendirian Muhammadiyah di Alabio.
Japeri pun resmi memegang kartu anggota nomor I/12541. Angka 12541 merupakan petunjuk, bahwa hanya segitu jumlah anggota Muhammadiyah di Indonesia kala itu.
Mereka kemudian mengusahakan pendirian sekolah. Karena gedungnya belum ada, belajar mengajar menempati rumah beberapa dermawan.
Ketika pendirian sekolah dimulai, Japeri memberi contoh, menyerahkan hartanya untuk sumbangan awal. Hingga akhirnya terkumpul dana kurang lebih 30 ribu gulden.
Sekolah ini dibangun di atas perbatasan dua kampung, Teluk Betung dan Pandulangan. Rampung tanggal 13 Juli 1926.
Cita-cita pertama terwujud, Japeri semakin bersemangat. Berturut-turut gedung kantor pengurus Muhammadiyah, panti asuhan, sekolah khusus dai dan kader Muhammadiyah dibangun.
Dilanjutkan dengan pembangunan sekolah putri Aisyiyah, koperasi, dan penerbitan majalah Seruan Muhammadiyah.



