Di Kalteng NTP Tertinggi Subsektor Perkebunan Rakyat

Kalteng NTP subsektor

PALANGKA RAYA, kalteng.co – Dari lima subsektor, nilai tukar petani (NTP) di Kalimantan Tengah (Kalteng) tertinggi selama Juli 2021 ber­asal dari tanaman perkebunan rakyat (132,45). Diikuti peternakan (106,67), perikanan (102,00), hor­tikultura (100,65) dan tanaman pangan 94,82 persen.

“Pada Juli 2021, nilai tukar hasil produksi pada subsektor tanaman pangan masih belum mampu mengimbangi tingkat harga kebu­tuhan konsumsi dan biaya produk­si. Hal ini disebabkan karena indeks harga yang diterima petani (103,27) lebih kecil dibanding indeks harga yang dibayar petani (108,91),” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, Eko Marsoro.

Eko menjelaskan, untuk NTP subsektor tanaman pangan mengalami penurunan 0,99 persen dari 95,77 (Juni 2021) menjadi 94,82 (Juli 2021). Penurunan nilai tukar ini disebabkan karena terjadinya penurunan harga di tingkat pro­duksi komoditas padi (1,03 persen) maupun komoditas palawija (1,18 persen).

Berita Terkait…..NTP Lebih Rendah 2,39 Poin dari NTUP

“Adapun penurunan komodi­tas palawija disebabkan oleh ko­moditas jagung dan ketela pohon. Penurunan komoditas gabah terjadi karena beberapa kabupaten sudah memasuki awal panen,” ujarnya.

Baca Juga:  Masyarakat Adat Dayak Desa Parahangan Gelar Mampakanan Sahur Lewu

Lebih lanjut ia mengatakan, subsektor hortikultura juga men­galami penurunan nilai tukar (0,78 persen) dari 101,44 (Juni 2021) menjadi 100,65 (Juli 2021). Penurunan ini juga dipengaruhi oleh penurunan It (0,88 persen) yang lebih besar dari penurunan Ib (0,09 persen). Penurunan It terjadi pada semua kelompok produksi, yakni sayur-sayuran sebesar 1,08 persen (terung, kacang panjang, dan ketimun), buah-buahan se­besar 0,74 persen (semangka dan nanas) serta tanaman obat sebesar 0,07 persen (jahe).

Sementara untuk tanaman perkebunan rakyat, Eko menyebut, subsektor ini merupakan andalan di Kalteng. Pada Juli 2021, subsek­tor ini mengalami peningkatan nilai tukar sebesar 1,35 persen yang didorong oleh peningkatan It (1,31 persen) khususnya un­tuk komoditas karet dan kelapa sawit. Sementara itu, Ib mengalami penurunan sebesar 0,04 persen di periode yang sama.

“Selama setahun terakhir, NTP subsektor perkebunan rakyat ter­us mengalami peningkatan dan dominan dibanding subsektor lainnya. NTP subsektor tanaman perkebunan rakyat pada bulan Juli 2021 sebesar 132,45,” ungkapnya.

Baca Juga:  Vaksinasi Massal Industri Jasa Keuangan Kembali Digelar

Eko juga menjelaskan, pada Juli 2021, subsektor peternakan mengalami peningkatan nilai tu­kar (0,20 persen) dari 106,46 (Juni 2021) menjadi 106,67 (Juli 2021). Hal ini disebabkan peningkatan It (0,25 persen) lebih besar daripa­da peningkatan Ib (0,05 persen). Indeks harga hasil produksi pada kelompok ternak besar (sapi po­tong) mengalami peningkatan sebesar 2,82 persen dan ternak kecil (kambing dan babi) sebesar 1,32 persen.

Subsektor perikanan juga mengalami peningkatan nilai tukar (0,08 persen) dari 101,92 (Juni 2021) menjadi 102,00 (Juli 2021). Peningkatan nilai tukar subsektor perikanan didorong oleh meningkatnya nilai tukar nelayan perikanan tangkap (0,08 persen) dan nelayan perikanan budidaya (0,08 persen).

“Meningkatnya indeks harga perikanan tangkap didorong oleh komoditas ikan baong, toman dan ikan papuyu (betok). Sedangkan peningkatan indeks harga peri­kanan budidaya didorong oleh komoditas ikan patin budidaya,” tandasnya. (aza)