BeritaNASIONAL

Ketegangan Iran-Israel Picu Kekhawatiran Publik Indonesia: Potensi Konflik Meluas ke Asia?

KALTENG.CO-Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel ternyata memicu kekhawatiran yang mendalam di kalangan masyarakat Indonesia.

Hasil survei terbaru dari Media Survei Nasional (Median) mengungkapkan bahwa sebanyak 50,2 persen publik menyatakan khawatir bahwa konflik tersebut dapat berdampak luas, bahkan berpotensi memicu perpecahan antarnegara di kawasan Asia.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun, menyoroti temuan ini sebagai indikasi adanya kegelisahan sosial yang tak boleh diabaikan oleh para pembuat kebijakan.

“Jadi temuan ini mengonfirmasi adanya perasaan publik bahwa mereka mengkhawatirkan pecah konflik di sekitar Asia. Tentunya ini pada akhirnya memengaruhi banyak hal, mulai dari perilaku sosial masyarakat hingga cara elite kita dalam mengambil kebijakan,” kata Rico dalam konferensi pers daring pada Senin (30/6/2025).

Strategi Diversifikasi Alutsista sebagai Jawaban Kekhawatiran

Rico menuturkan, kekhawatiran publik ini bisa dijadikan pijakan penting dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk langkah diversifikasi sumber pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) oleh pemerintah Indonesia. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga keamanan dan kedaulatan negara di tengah dinamika global yang tak menentu.

“Kalau kita bisa lihat dalam konteks ini, langkah Presiden yang mendeversifikasi pembelian alutsista dari berbagai negara mungkin salah satunya bisa digunakan untuk menjawab kekhawatiran ini,” ujar Rico.

Diversifikasi sumber alutsista dianggap mampu memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional dan mengurangi ketergantungan pada satu blok kekuatan tertentu.

Sentimen Ketidaksukaan Publik Terhadap Negara Tertentu

Selain kekhawatiran terhadap potensi konflik, survei Median juga mencatat tingkat ketidaksukaan publik terhadap beberapa negara. Menurut Rico, ketidaksukaan ini mencerminkan posisi emosional masyarakat Indonesia dalam menyikapi dinamika internasional.

“Salah satu negara yang dominan sekali dalam hal ini adalah Israel, dengan 60,8 persen publik menyatakan tidak suka. Lalu disusul Amerika Serikat 9,2 persen, India 5,5 persen, Kamboja 4,6 persen, dan 3,1 persen lainnya,” terang Rico.

Ia menambahkan, tren ketidaksukaan terhadap Israel mengalami peningkatan signifikan dibanding hasil survei beberapa bulan lalu. “Kalau seingat saya dari survei sebelumnya, angka ketidaksukaan terhadap Israel tidak setinggi ini. Tapi sekarang ini terjadi peningkatan yang sangat besar dari publik,” ungkapnya.

Rico menegaskan bahwa hasil survei ini diharapkan menjadi bahan refleksi bagi para pemimpin dan elite nasional dalam mengelola hubungan luar negeri, serta menjaga stabilitas sosial dalam negeri di tengah tensi geopolitik global.

“Ini jumlah yang sangat besar ya, satu dari dua netizen kita mengkhawatirkan perang. Jadi kekhawatiran ini jangan dianggap remeh,” pungkasnya. (*/tur)

https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co https://kalteng.co

Related Articles

Back to top button