
PALANGKA RAYA, Kalteng.co – Di tengah gemerlap perayaan Paskah yang identik dengan sukacita kebangkitan, masyarakat Kristiani di Kota Cantik Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Sabtu malam (4/4/2026), tetap menjaga satu tradisi yang sarat makna spiritual, yakni ziarah malam ke makam keluarga.
Tradisi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan Paskah, khususnya setelah ibadah Jumat Agung hingga menjelang Minggu Paskah. Saat malam mulai larut, suasana pemakaman di berbagai titik Kota Palangka Raya justru dipenuhi cahaya lilin dan lantunan doa yang syahdu. Keluarga-keluarga datang secara bergantian, membawa bunga, air, dan perlengkapan sederhana untuk membersihkan makam orang-orang tercinta.
Dalam keheningan malam, mereka membersihkan area makam, menata kembali batu nisan, lalu menaburkan bunga sebagai simbol kasih yang tak pernah pudar. Lilin-lilin dinyalakan, menciptakan suasana hangat di tengah gelapnya malam, seakan menjadi lambang terang Kristus yang mengalahkan maut.
Ziarah malam Paskah ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Bagi banyak warga, ini adalah momen refleksi yang mendalam. Doa-doa dipanjatkan bukan hanya untuk mereka yang telah berpulang, tetapi juga sebagai bentuk perenungan diri akan makna pengorbanan dan kebangkitan Yesus Kristus.
“Ini bukan hanya mengenang, tapi juga menguatkan iman kami. Di sini kami belajar menerima kehilangan dan percaya akan kehidupan kekal,” ungkap salah satu warga yang ditemui di area pemakaman.
Tradisi ini juga menjadi ruang kebersamaan keluarga lintas generasi. Anak-anak diajak ikut serta, dikenalkan pada nilai penghormatan kepada leluhur serta makna kehidupan yang lebih luas. Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, kebiasaan ini tetap dipertahankan sebagai warisan budaya dan iman yang tak tergantikan.
Menariknya, suasana ziarah malam Paskah di Palangka Raya memiliki ciri khas tersendiri. Tidak ada hiruk-pikuk, tidak pula kesan menyeramkan. Yang terasa justru ketenangan dan kedamaian. Warga datang dengan penuh kesadaran, menjaga sikap dan ucapan, menciptakan nuansa sakral yang begitu kental.
Meski bersifat pribadi dan keluarga, kegiatan ini tetap berlangsung tertib dan aman. Dukungan dari masyarakat sekitar serta aparat keamanan membuat tradisi ini berjalan dengan lancar setiap tahunnya. Hal ini sekaligus menunjukkan tingginya rasa toleransi dan saling menghargai antarumat beragama di Kota Cantik.
Seiring waktu, ziarah malam Paskah di Palangka Raya tidak hanya menjadi simbol penghormatan kepada yang telah tiada, tetapi juga menjadi refleksi kolektif tentang arti kehidupan, kematian, dan harapan akan kebangkitan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa dalam kesunyian dan duka, selalu ada cahaya harapan yang menyertai.
Dengan nuansa hening, haru, dan penuh makna, tradisi ziarah malam ke makam ini terus hidup dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Paskah di Palangka Raya menguatkan iman, mempererat keluarga, serta menjaga nilai-nilai luhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. (pra)



