Manusia Silver

Dengan berjalan kaki dari rumahnya, keduanya bergegas untuk mencari nafkah menjadi manusia silver. Dengan berbekal kardus kecil berwarna silver mereka berhenti di perempatan jalan. Bak sebuah patung berdiri di pinggir jalan mereka jalani hingga matahari hampir terbenam.
Ghufron tidak sendirian menjadi manusia silver di ibu kota. Manusia-manusia aneh ini mulai menjamur. Hampir di perempatan jalan mereka mematung menunggu iba para pengguna jalan. Persoalan sosial dengan motif ekonomi menjadi latar belakangnya.
Sesekali terlihat kerdip mata mereka karena terik matahari. Dari ujung kepala hingga ujung kaki tubuh mereka penuh warna silver. Hanya mata dan mulutnya yang kelihatan putih dari kejauhan.
Sambil membungkukkan badan manusia silver menerima uang receh dari pengguna jalan. Mereka mengumpulkan rupiah dalam keangkuhan ibu kota demi bertahan hidup.
Menjadi manusia silver terkadang juga penuh risiko. Mereka kucing-kucingan dengan petugas saat beroperasi. Tidak sedikit teman mereka meringkuk di dinas sosial akibat razia yang dilakukan petugas.
Lampu merah masih menyala. Lalu lalang kendaraan tidak pernah sepi. Denyut kehidupan kota metropolis seakan berpacu dengan ambisi dan keegoan diri. Mereka berebut pangkat dan kedudukan paling tinggi. Kadang harus menjegal kawan dan lawan demi posisi teratas itu.
Popularitas dan pengakuan dari warga net juga tak pelak untuk dilakukan demi pundi-pundi kantong pribadinya. Apa pun di lakukan kadang menisbikan sisi kemanusiaanya.
Di sisi lain mereka berlomba-lomba menumpuk-numpuk materi demi kesenangan pribadi. Tak guna harus tahu kaum marginal dan termarginalkan seperti Ghufron dan keluarganya.
Paling-paling di musim pemilihan calon legislatif (caleg) seperti ini mereka menjadi kaum dielu-elukan dan menjadi bagian prioritas untuk diangkat derajatnya sesaat. Selanjutnya mereka menghilang bak ditelan bumi.
“Sudah malam bu? Mari pulang!” sambil mengandeng tangan istrinya Ghufron melangkah pulang di tengah-tengah kesibukan kota yang tak pernah tidur.
Di atas gedung pencakar langit tampak bulan tersangkut di tower sebuah bangunan bintang lima. Hingga tak mampu mengikuti kepulangan tiga orang tersebut ke tempat peristirahatanya.
Di sepanjang jalan dilaluinya, Ghufron manusia silver itu mengenang saat-saat ia membajak sawah dengan sapi dijualnya itu. Ia rindu suasana desa tentram dan damai. Suara gemericik air di pematang sawah dan kicauan burung kenari berterbangan terlintas di kepalanya.
Sendau gurau bocah-bocah kecil berenang di sepanjang bantaran sungai sambil telanjang dada seakan menjadi hiburan tersendiri bagi Ghufron saat itu. Belum lagi terasa sangat nikmat bekal makanan yang di bawakan istrinya untuk ia makan di pematang sawah setelah setengah hari berjibaku dengan tanah.
“Hai kampreeet!!! Mau mati ya!!! Lihat mata lu!!!” Ucapan serapah dan makian dari pengguna motor hampir menabrak tubuh Ghufron.




