BeritaFAMILYLife StyleMETROPOLIS

Bukan Soal Usia di KTP: Studi Ungkap Batas Sebenarnya Merasa Dewasa Adalah 29 Tahun

1. Ketergantungan Finansial yang Berlarut-larut Salah satu tonggak utama kedewasaan adalah kemandirian finansial. Selama seseorang masih sangat bergantung pada orang tua atau pihak lain untuk kebutuhan dasar (sewa, makanan, tagihan), perasaan menjadi dewasa sejati akan tertunda. Kemampuan mengelola uang, membayar pajak, dan merencanakan masa depan keuangan adalah inti dari tanggung jawab orang dewasa.

2. Belum Mengambil Keputusan Hidup yang Besar Keputusan seperti membeli properti, menikah, memiliki anak, atau bahkan mengambil risiko karir yang besar seringkali menjadi “ritual inisiasi” kedewasaan. Mereka yang menghindari komitmen jangka panjang dan keputusan berat cenderung merasa hidupnya masih “dalam masa percobaan.”

3. Ketidakmampuan Mengelola Emosi dan Konflik Orang dewasa sejati mampu mengendalikan emosi, menyelesaikan konflik dengan cara yang konstruktif, dan menerima kritik. Reaksi yang berlebihan (drama), menyalahkan orang lain, atau menghindari masalah (ghosting) adalah tanda-tanda kematangan emosional yang belum tercapai.

4. Minimnya Rasa Akuntabilitas Diri Akuntabilitas adalah mengakui kesalahan, meminta maaf, dan mengambil tindakan korektif tanpa mencari kambing hitam. Mereka yang selalu merasa menjadi korban atau menolak untuk bertanggung jawab atas kegagalan mereka akan sulit merasakan beratnya peran orang dewasa.

5. Kurangnya Perencanaan Jangka Panjang Kedewasaan melibatkan melihat melampaui kebutuhan dan kesenangan saat ini. Jika hidup hanya dihabiskan untuk kepuasan instan tanpa memikirkan pensiun, asuransi, atau warisan, itu menunjukkan pola pikir yang masih berorientasi pada masa kini seperti anak muda.

6. Masih Terjebak dalam Peran Masa Kecil (The Peter Pan Syndrome) Kadang-kadang, individu merasa sulit untuk melepaskan diri dari citra atau peran yang mereka miliki di keluarga masa kecil mereka. Mereka mungkin masih mencari persetujuan orang tua atau berperilaku dengan cara yang sesuai dengan peran “anak” daripada peran “orang dewasa yang setara.”

7. Menolak Menerima Batasan dan Keterbatasan Hidup Orang dewasa menyadari bahwa hidup itu tidak sempurna, tidak semua keinginan bisa terpenuhi, dan ada batasan waktu, energi, dan uang. Menolak untuk menerima kenyataan pahit ini dan terus hidup dalam fantasi atau ekspektasi yang tidak realistis dapat menunda perasaan menjadi dewasa.


Batas usia 29 tahun di Inggris menunjukkan pergeseran budaya tentang kapan kita siap memikul beban tanggung jawab penuh.

Kedewasaan bukanlah tujuan yang dicapai pada ulang tahun ke-18 atau ke-21, melainkan proses berkelanjutan yang ditandai dengan kemandirian finansial, kematangan emosional, akuntabilitas diri, dan kemampuan untuk merawat serta bertanggung jawab atas orang lain.

Merasa “dewasa” adalah tentang merangkul tanggung jawab, bukan sekadar menghindari immaturity. (*/tur)

https://kalteng.co
Laman sebelumnya 1 2

Related Articles

Back to top button