Permukiman Kuno dan Pagar Pertahanan, Situs Bersejarah di Kalteng

Soal temuan manik-manik dan segala jenis bahan porselen dan stoneware buatan Cina maupun Eropa di lokasi, arkeolog lain turut dalam perbincangan saat itu, Ida Bagus Putu Prajna Yogi, belum berani menyebut secara pasti kapan barang-barang itu masuk, termasuk bagaimana cara barangbarang itu berada di permukiman kuno yang ada di Rungan Hulu.
“Bisa jadi penjual atau pembawa barang bertransaksi di muara sungai. Bisa juga pemilik benda itu turun langsung,” ungkapnya diamini Asih.

Temuan itu memang sangat menarik. Ditemukan berbagai motif buatan zaman Dinasti Ming (1368- 1644), Dinasti Qing (1644- 1912) serta buatan Eropa produksi Mastrich (abad ke-20). “Kuat kemungkinan adanya system perdagangan barter. Tapi, kami masih mengkaji kembali barang apa yang keluar dari Rungan Hulu yang dikehendaki (orang asing, Red),” ungkapnya.
Pihak Balar Kalsel pun merekomendasikan penemuan situs ini dijadikan sebagai cagar budaya. Terutama Kuta Hantapang yang dinilai sangat penting. Meski usianya lebih muda dari Kuta Mapot, di Hantapang masih menyisakan tiang dan bangunan rumah betang, baik yang ada di permukaan tanah maupun yang terpendam di tanah. “Situs ini harus dilindungi dan dijaga,” sahut Asih.
Sambil mengangkat dan membetulkan kembali posisi duduk di kursi rangka besi bulat itu, Asih menyebut saat penelitian kondisi lingkungan sekitar sangat mengkhawatirkan. Pertama, lokasinya di bibir sungai. Setiap tahun air meluap menyebabkan tanah longsor. Keberadaan tiang-tiang itu semakin lama semakin rentan terkikis pengaruh panas dan hujan. “Harus diberi atap,” saran wanita yang sudah 17 tahun dipercaya sebagai peneliti madya bidang kepakaran arkeologi permukiman Balar Kalsel itu.
Perlu diupayakan untuk menampakkan sisa bangunan. Keberadaan kuta sangat cocok dijadikan objek wisata sejarah atau pendidikan, sehingga masyarakat dapat menikmati kembali kemegahan dan kekayaan arsitektur yang dimiliki nenek moyangnya.



