REFLEKSI HARI KOPERASI NASIONAL 12 JULI 2021

Kemampuan bertahan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam terjangan krisis ekonomi tidak perlu di sangsikan. Perjalanan sejarah perekonomian di Negara ini sudah mengujinya berulang kali. Cerita nyata Warung Sederhana Ibu Sri di Jalan Manjuhan Kota Palangka Raya itu, hanya sekelumit gambaran dari perjuangan anak bangsa dalam membangun kemandirian perekonomian rumah tangga.
Hingga wajar saja rasanya apabila saat ini pemerintah berupaya memberikan perhatian serius bagi kalangan UMKM. Bukan hanya dari bantuan pendanaan, tetapi tak kalah pentingnya juga adalah kebijakan publik yang pro-UMKM.
Di tengah tidak adanya kepastian pandemi covid-19 berakhir, sentra-sentra perekonomian harus tetap tumbuh. Jangan justru di matikan, meski dengan alasan berpotensi menjadi klaster penyebaran covid.
Para pelaku UMKM cukup sadar kok dengan bahaya covid. Mereka juga pasti mematuhi protokol kesehatan (Manjaga Jarak, Mencuci Tangan dan Mengenakan Masker), asalkan tetap boleh berjualan demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, agar asap di dapur tetap mengepul.
Kebijakan publik pemerintah di era New Normal yang memberikan ruang bagi tumbuhnya UMKM boleh jadi angin segar bagi pertumbuhan perekonomian daerah. Di tengah banyak nya karyawan kantoran yang masih terimbas pandemi covid, seperti korban PHK, karyawan yang di rumah kan dan mereka yang gaji bulanan nya di potong dengan alasan perusahaan tidak mampu alias omset perusahaan turun drastis, menjadi pelaku UMKM adalah sebuah pilihan yang sangat bijaksana.
Tak mengherankan bahwa di masa era new normal sekarang ini, para pelaku UMKM tumbuh bak jamur di musim penghujan, khususnya di Kota Palangka Raya Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah.
Hampir di setiap sudut ruas jalan, perumahan hingga perkampungan, dengan mudah dapat di temui pelaku UMKM, dari yang hanya sekadar bermodalkan meja dan kursi atau kaki lima hingga yang dalam bentuk warung kontainer dengan desain lebih modern.



