,

Terpikat Betang Tumbang Apat 1897

BUKTI SEJARAH : Rumah Betang Tumbang Apat, Desa Konut dengan salah satu tiang kayu ulin dibawa usai perdamaian Tumbang Anoi dibangun 1897. INSERT : (dari kanan) Ali Laca Singa Bulo, El Nazer Sarajan Ganap dan Kuleh Tarung Apui di Air Terjun Tomoku tak jauh dari rumah betang, dua pekan lalu. FOTO : HITAM PUTIH BORNEO

Mengikuti perjalanan bersama Geng Kapaks, seniman maupun budayawan Kalteng, meninggalkan kenangan syarat kekeluargaan. Seminggu menjelajah hingga pedalaman Murung Raya, pun memberikan pengalaman tak ternilai harganya. Alam raya mengajari logika hingga metafisika menjadi kearifan lokal nan kekal.

ALBERT M SHOLEH, Palangka Raya

PERSIAPAN mental ternyata tidak kalah penting dibanding kesiapan fisik dan bekal. Perjalanan darat dengan jarak tempuh Palangka Raya – Kuala Kurun – Murung Raya hingga beberapa titik lokasi, mengikis keringat dan keyakinan.

Sembari mencoba menelusuri mozaik Dayak Siang, diawali dari Rumah Betang Apat, Desa Konut, Kecamatan Tanah Siang. Sebagian menyebut sebagai Betang Konut, rumah yang kini dihuni enam kepala keluarga dengan beragam agama.

Perjalanan ditemani sekitar 17 anggota Geng Kapak yang boleh dibilang seniman dan budayawan muda. Menari? Tentu saja mahir. Selain itu, mereka juga ada keterikatan leluhur Huma Betang Tumbang Apat dan Dayak Siang.

Tepat pukul 17.00 Wib tiba di Huma Betang. Barang bawaan, logistik, hingga alat musik dan kostum tari diangkut Geng Kapak naik Huma Betang. Sedangkan penulis bersama 4 Fotografer dan Videografer Hitam Putih Borneo (HPB), kegirangan melihat indahnya senja.

Pasang tripod untuk timelapse. Mondar-mandir mencoba bikin konten. Menerbangkan drone sebelum gelap, melihat sekitar Sungai Babuat hingga mencoba mengintip air terjun Tomoku berjarak tak lebih 2 km.