,

Terpikat Betang Tumbang Apat 1897

BUKTI SEJARAH : Rumah Betang Tumbang Apat, Desa Konut dengan salah satu tiang kayu ulin dibawa usai perdamaian Tumbang Anoi dibangun 1897. INSERT : (dari kanan) Ali Laca Singa Bulo, El Nazer Sarajan Ganap dan Kuleh Tarung Apui di Air Terjun Tomoku tak jauh dari rumah betang, dua pekan lalu. FOTO : HITAM PUTIH BORNEO

Usai doa dan niat izin dilantunkan basir, semua peralatan ditampung tawar. Di akhir ritual, penyambutan tuan rumah terhadap tamu dengan menyediakan anding, memberikan nuansa lain. Segelas anding atau minuman tradisional tidak memabukkan. Cukup melegakan dan menghangatkan badan. Sebagai pembuka perkenalan dan saling sapa.

Althur Malik mengenalkan keluarga betang dan tamunya dengan bahasa Dayak Siang. Dari semua tim dari Palangka Raya, hanya Jimy yang bisa.

Kudapan, kopi, dan anding atauminuman tradisional (baram) menemani keakraban malam itu.

Sejak selesai ritual dan pengambilan gambar di betang dan sekitarnya, malam, pagi, siang, sore hingga malam lagi selalu ritual. Minimal minta izin atau mengutamakan tujuan baik.

“Di rumah betang ini ada poros tengah sebagai tanda untuk garis keturunan sebelah Andin dan Ura Tarung,” ucap Generasi ke-4 Leluhur Huma Betang Apat dari Keluarga Ura Tarung, Althur Malik.

Pria yang juga empunya panggilan Ali Laca Singa Bulo (Ontun Danum) itu menuturkan, Rumah Betang Apat dibangun 1897. Rumah di Sungai Babuat ini sudah dipugar merupakan rumah kedua. Sedangkan rumah betang pertama di daerah yang dinobatkan pemerintah sebagai Komunitas Adat Terpencil (KAT), hanya sisa bangunan saja.