,

Terpikat Betang Tumbang Apat 1897

BUKTI SEJARAH : Rumah Betang Tumbang Apat, Desa Konut dengan salah satu tiang kayu ulin dibawa usai perdamaian Tumbang Anoi dibangun 1897. INSERT : (dari kanan) Ali Laca Singa Bulo, El Nazer Sarajan Ganap dan Kuleh Tarung Apui di Air Terjun Tomoku tak jauh dari rumah betang, dua pekan lalu. FOTO : HITAM PUTIH BORNEO

Usai mandi dan membersihkan diri, Jimy Oktolongere Andin / El Nazer Sarajan Ganap (Ontun Bahi/Kaju) juga mengatakan, di rumah leluhur mereka, memberikan bukti fakta Dayak Siang. Keragaman merupakan keniscayaan, terbukti 6 kepala keluarga di rumah betang ini ada beragam keyakinan Kristen, Katolik, Islam, Hindu Kaharingan.

adi malam ada kebaktian, ada juga yang kayolik, muslim, dan ada juga yang hindu kaharingan, ini keragaman

Falsafah Huma Betang, ya inilah bukti dari leluhur. Nah, sebagai generasi masa sekarang, banyak hal yang dititipkan moyang dan orang tua mereka adalah tetap lestarikan budaya, lestarikan alam dan lingkungam sebagai manusia yang berkearifan lokal. Jangan kalah dengan perjalanan dan tantangan perkembangan zaman.

Jimy yang juga dosen di Universitas Palangka Raya tersebut menegaskan, sebagai contoh kata bijak burung nyaru yang memiliki makna dimana hidup selalu menjunjung tinggi kearifan lokal dan bisa menyesuaikan zaman. Seperti halnya dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, maupun istilah think globally act locally (berpikir global bertindak lokal).

“Mau tinggal di desa dan kota sampai planet lain kita sesuaikan sebagai orang Dayak yang berkearifan lokal (suno sonik / cucu cicit),” kata Jimy juga merupakan Ketua Dewan Kesenian Palangka Raya (DKPR).

Tepat di bawah pilar utama Huma Betang Apat, Jivy Ritchardo Andin / Kuleh Tarung Apui (Ontun Apui) menjabarkan tentang upaya menjaga dan melestarikan seni budaya.