,

Terpikat Betang Tumbang Apat 1897

BUKTI SEJARAH : Rumah Betang Tumbang Apat, Desa Konut dengan salah satu tiang kayu ulin dibawa usai perdamaian Tumbang Anoi dibangun 1897. INSERT : (dari kanan) Ali Laca Singa Bulo, El Nazer Sarajan Ganap dan Kuleh Tarung Apui di Air Terjun Tomoku tak jauh dari rumah betang, dua pekan lalu. FOTO : HITAM PUTIH BORNEO

Namun, ratusan frame foto tampak blur alias tidak fokus meski lensa sudah dikunci ke satu titik. Video? Lensa manual fokus pun seolah berbayang dan hilang fokus. Nasib drone? Sempat hilang kontak. Drone mengandalkan GPS lantaran tidak ada sinyal telekomunikasi, pun sulit dikendalikan. Hingga seperti menabrak pembatas awan meski langit tampak cerah.

Belum sadar. Tapi, kepala rombongan Jimy O Andin mulai menghampiri tim visual. Begitu juga Althur Malik yang langsung masuk rumah betang tatkala senja menuju gelap.

“Ayo masuk semua,” kata Jimy memanggil.

Peralatan foto, video, audio, alat musik, kostum dan sejenisnya dikumpulkan di tengah huma betang. Dikelilingi seluruh rombongan dan keluarga tuan rumah.

Ya. Ternyata mereka menggelar ritual. Ada telur. Ayam. Beras kuning. Anding. Dupa dan lainnya.

Asianel, Basir atau Basi Tumbang Apat memimpin ritual. Jimy mencoba menatap wajah tim dokumentasi untuk tetap tenang dan mengikutinya.