,

Terpikat Betang Tumbang Apat 1897

BUKTI SEJARAH : Rumah Betang Tumbang Apat, Desa Konut dengan salah satu tiang kayu ulin dibawa usai perdamaian Tumbang Anoi dibangun 1897. INSERT : (dari kanan) Ali Laca Singa Bulo, El Nazer Sarajan Ganap dan Kuleh Tarung Apui di Air Terjun Tomoku tak jauh dari rumah betang, dua pekan lalu. FOTO : HITAM PUTIH BORNEO

Althur lebih berperan sebagai keturunan yang sering berkomunikasi dengan leluhur dan mahir penalaran metafisika. Jimy lebih bermain di wilayah edukasi dan menyebarluaskan seni budaya. Sedangkan Jivy tekun dengan generasi muda dan penerus, sekaligus sebagai filter kepada generasi di bawahnya.

“Sebagai bagian keluarga besar Betang Tumbang Apat, panggilan jiwa dan rohani tetap melestarikan budaya leluhur. Kiat yang saya lakukan sampai detik ini terus melestarikan kesenian tari, musik, tradisi maupun yang bersifat marginal dan upaya generasi muda ambil bagian sebagai pelaku seni budaya bukan penonton,” ungkap Jivy.

Pemuda yang juga abdi negara di Diskominfo Murung Raya itu menilai, budaya tidak boleh hilang karena jati diri dan identitas manusia. Belajar dari pesan leluhur dan orang tua, dengan bukti rumah betang, upaya sebagai pemaris tentu saja tidak akan membiarkan modernisasi menggerus adat istiadat Dayak.

Untuk itu, ia membentuk komunitas, sanggar, kelompok kecil hingga kumpulan bernama Geng Kapak berisi pemuda pelestari seni budaya dan adat istiadat khususnya Dayak Siang.

“Kita bentuk kelompok kecil yang memberikan dampak positif. Mengarahkan ke hal positif tidak berbaur budaya yang merusak generasi penerus, karena berangkat dari seni kita dapat membentuk karakter pemuda yang terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya berbagai cara, sistem, pola,” ucapnya.

Dalam pengembangan seni, ia menegaskan, tidak membatasi keinginan pemuda dengam cara masing-masing. Asal, tujuannya melestarikan seni budaya, menghormati adat istiadat leluhur Dayak sebagai bagian dari Bumi Tambun Bungai dan NKRI. (*/bersambung)